Hari ini, di mata kuliah “Psikologi Pendidikan”, kami belajar tentang Andragogi dan Pedagogi. Hal yang saya tahu tentang andragogi dan pedagogi, dalam pembelajaran pada andragogi, siswa dituntut lebih aktif dan mandiri mencari informasi dan berbagi dengan pelajar lainnya, dan disini guru atau dosen hanya sebagai fasilitator saja, untuk mengarahkan apakah cara mencari dan informasi yang dicari pelajar sudah tepat atau tidak. Sedangkan pedagogi, kebalikan dari andragogi, dimana gurulah yang lebih aktif dari pada muridnya, dan apapun aktifitas yang belum dapat dilakukan dengan baik oleh muridnya, gurulag yang bertanggung jawab sebagai orang yang merencanakan itu untuk muridnya.
Pengalaman belajar andragogi saya contohnya dengan Bu Dina kali ini, pembelajaran berbeda dari biasanya, dimana setiap mahasiswa diberikan kertas yang masing-masing berwarna kuning, merah jambu, orange. Dan setiap mahasiswa pun mneriman kertas dari Bu Dina dengan kebingungan. Semua kertas-kertas itu berisi unsur, indikator dan asumsi-asumsi dari andragogi dan pedagogi. Kertas yang saya dapatkan hanya bertuliskan “oleh guru”. Saya bingung apa yang harus saya lakukan, dan saya juga tidak mau bertanya apa, lali Bu Dina memberikan clue, kalau kertas warna merah jambu hany jumpa dengan kertas warna kuning, dan setiap sudut itu merupakan satu kesatuan, kanan depan itu untuk kertasnya “indicator”, kiri depan, itu untuk kertas-kertasnya “andragogi dan pedagogi’, sudut kiri belakang itu, asumsi nya pedagogi dan sudut kanan belakang itu untuk asumsi andragogi. Setelah dikelompokkan seperti itu, kami semua mulai menacari kelompok kami, dan menunggu untuk menempelkan kan kertas itu di papan tulis. Setelah beberapa saat, Bu Dina memperingatkan bahwa setiap asumsi harus berurutan dan pas dengan indikatornya. Disitu kami dituntut harus aktif mencari pasangan kertas kami, dan dengan benar menempelkannya di papan tulis. Lalu saya berpikir, kalau saat mata kuliah itu, saya menunggu instruksi dan perintah dari dosen dan saya hanya menjadi pelajar pasif, mungkin cara belajar itu akan gagal. Tidak mungkin, dosen mengarahkan kami sekelas mencari pasangan kertas kami satu-satu.
Pengalaman belajar pedagogi saya, yang pasti sangat banyak, karena yaitu ketika saya SD, di mata pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian. Saat itu kami disuruh buat buneka yg kerangka bandanya dari kawat, dan kepalanya dari bola plastic. Seingat saya, dari pertama kami buat kerangka dengan kawan, menjahitkan bajunya dan memasangkan kepala di kerangka badan tersebut, kami selalu dipantau dan dibantu oleh guru, karena saya sendiri juga pasti bingung kalau disuruh membuat boneka dari kawat pada waktu itu, tapi kalau saya disuruh buat boneka itu sekarang saya yakin bisa, karena, saya sudah tahu cara mengeksplorasi ide-ide saya. Lalu, kalau kami bingung, disini guru tidak membiarkan kami diam, dan meninggalkan tugas itu, dan membantu kami memecahkan masalah.
Sekian pengalaman saya tentang andragogi dan pedagogi. Tapi, bila disuruh memilih yang mana yang lebih bagus dan lebih disukai antara, andragogi dan pedagogi, saya tidak bisa memilih, karena bagi saya, saya memerlukan keduanya untuk setiap masing-masing masa pendidikan saya. Saya tidak mungkin bisa menjalankan andragogi di perguruan tinggi kalau saya belum melewati pedagogi dengan baik di masa sekolah dasar saya dengan baik. Oleh karena itu, andragogi dan pedagogi bukan untuk dipilih, tapi yang pasti kita harus mengalaminya, agar tidak terjadi penyimpangan dalam cara belajar kita, dan cara kita memperoleh informasi tidak salah.